6/07/2014

Pesan untuk Magnivic Alencearin

Wisuda Magnivic Alencearin, 31 Mei 2014

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahi rabbil Alamin, kita sama-sama panjatkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang menciptakan manusia dengan berbagai perbedaan ras dan suku, yang mempertemukan mereka agar saling mengenal dan mengerti satu sama lain, karena nikmat iman, islam dan kesehatanlah kita bisa berhimpun dalam momen yang langka ini, wisuda MAGNIVIC ALENCEARIN angkatan 17 MAN Insan Cendekia Serpong.

Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada nabi akhir zaman, khotamannabiyyin, Muhammad SAW., sosok paling inspiratif dan paling berpengaruh, suri tauladan tanpa cela, yang menawarkan jalan yang lurus lagi menyelamatkan bagi umat manusia, Addinul islam, yang berjasa menunjukkan kepada manusia kebenaran dan tuntunan dalam menjalankannya. Beliau juga yang menjunjung tinggi persatuan islam, yang meluruhkan segala embel-embel, seperti ras, suku, jabatan, penghasilan, dan menyatukannya atas kesamaan ketundukan kepada Allah semata.

Ingatlah tidak akan kalian mendapatkan ilmu yang manfaat kecuali dengan enam syarat: Cerdas, Gemar, Sabar, Biaya, Petunjuk dari guru, waktu yang lama.

3 tahun yang lalu tepatnya 9 Juli 2011, hadirlah wajah-wajah baru ke bumi Insan Cendekia. wajah yang menampilkan paras kebahagiaan dan rasa syukur karena mampu menapakkan kaki di kawah candradimuka, sekolah impian dari banyak pelajar Indonesia. Ada yang berasal dari tanah sumatra, jawa bahkan kalimantan. Mereka adalah pelajar yang lebih diunggulkan dari pelajar lain, sehingga diberikanlah kesempatan kepada mereka untuk mengenyam pendidikan berbeasiswa di MAN Insan Cendekia. Mereka bersyukur atas kecerdasan yang Allah berikan kepada mereka, sehingga mereka dapat mengenyam pendidikan yang berkualitas tinggi.

Minggu-minggu pertama adalah hari yang penuh rasa. Satu sisi, mereka dikenalkan terhadap lingkungan baru yang asyik lagi ceria, teman-teman yang beragam warnanya, dan nilai dan norma yang mendarah daging di Insan Cendekia. Tapi disisi lain, mereka harus merelakan ketiadaan orang tua yang menemani keseharian mereka, menyiapkan sarapan di pagi buta, mengantar sampai ke sekolah mereka, dan menyambut di kala senja. Perasaan yang bercampur aduk, antara bahagia dan sedih. Tapi mereka adalah pelajar-pelajar yang tangguh, tidak mudah terombang-ambing oleh perasaan. Sesulit apapun kondisinya teringat tujuan mereka datang kesini, menjadi cendekiawan yang bagus akhlaknya. Mereka dikenalkan terhadap keseharian kampus yang padat, menuntut mereka untuk menjadi lebih sigap dari sebelumnya. Bangun sebelum subuh, pengajian bakda subuh, berangkat sekolah pagi, pulang di sore hari, dan belajar kembali di malam hari. Mereka juga dikenalkan prinsip-prinsip kehidupan di Insan Cendekia, terutama salam, identitas Insan Cendekia yang jarang ditemukan di sekolah lain. Mereka menjelma menjadi siswa yang gemar belajar, berinteraksi dengan sesama, aktif dalam kegiatan-kegiatan yang ada. OSIS, MPS, ekstrakulikuler, dan perkumpulan-perkumpulan lainnya menjadi kehidupan kedua bagi mereka. Cerdas belum cukup untuk menjalani semua itu, butuh kegemaran, rasa senang dalam menjalaninya.

Jalan hidup memang tak semulus rencana. Ternyata Allah mempunyai rencana lain yang tak terduga. Tak selamanya usaha mereka berbuah manis, terkadang mereka harus merasakan jatuh dan meringis. Tidak semua kesuksesan dilahirkan dari sebuah usaha keras, kerap kali terjadi kegagalan yang menuntut adanya evaluasi dan peningkatan kualitas. Meraka mendapatkan remedial, pengulangan pelajaran, dan permasalahan-permasalahan akademik lainnya. Karir mereka di bidang keasramaanpun tak seindah yang direncanakan. Kena poin lari, baca yasin pagi-pagi, gak bisa reguler, dijemur, dan masih banyak lagi. Gula tanpa garam akan terasa terlalu manis, begitupun sebaliknya. Mereka adalah pelajar-pelajar yang sabar menghadapi musibah yang ada. Kegagalan bukan untuk diratapi, tapi dijadikan modal kesuksesan di masa depan nanti. Butuh kesabaran yang luar biasa untuk menghadapi semua yang ada.

Hidup di MAN Insan Cendekia bagi mereka adalah tanggung jawab besar yang harus dipersaksikan kepada Allah nantinya. “Kau apakan uang rakyat Indonesia kala itu”. Bukan biaya yang kecil untuk menghidupkan Insan Cendekia. Biaya membangun, biaya listrik, biaya gaji guru dan pegawai, biaya acara-acara, eskul, dan biaya-biaya lain yang sumbernya dari uang rakyat. Memang, kualitas pembelajaran mau tidak mau pasti selaras dengan biaya operasional yang dikeluarkan. Mereka mengingatnya lebih dari sekedar ingatan, mereka bertindak dengan penuh kehati-hatian. Betapa beruntungnya mereka, tidak perlu lagi merepotkan orang tua dan sanak saudara. Biaya pendidikan mereka yang tinggi sudah ditanggung oleh negara. Maka merekapun menyadari bahwa mereka menanggung amanah-amanah yang dititipkan melalui uang tersebut agar dijalankan dengan penuh kesadaran.

Apalah artinya mereka tanpa keberadaan guru-guru yang ada, yang setia menemani mereka dari pagi buta hingga senja, bahkan hingga malam tiba. Para guru yang senantiasa mengajarkan dan membimbing mereka, agar tak sampai salah arah dalam memperlajari semua. Guru-guru yang bervariasi penyampaiannya, dari yang paling sabar hingga yang mebuat jantung berdebar, dari yang paling serius hingga yang bikin ketawa terus menerus. Berbeda tapi tetap satu, mengajarkan kepada mereka arti penting sebuah ilmu.

3 tahun adalah waktu yang tak sebentar ketika dibayangkan, tapi terasa cepat ketika dijalankan. Tidak terasa mereka disibukkkan dengan ritme kehidupan di Insan Cendekia yang ceria dan tak membosankan. Tahun pertama adalah tahun pengenalan, mereka dikenalkan tentang kampus, organisasi, dan yang terpenting adalah membentuk kesolidan dalam suatu angkatan. Tahun kedua mereka menyetir organisasi, memperbanyak inovasi, menambahkan kreasi, dan mengedepankan konsistensi. Mereka harus pandai membagi waktu untuk belajar dan berorganisasi. Tahun ketiga adalah tahun penentuan, penuh dengan latihan dan pemantapan. Sudah menjadi tabiat, Insan Cendekia mengukir prestasi lebih baik dibandingkan dengan sekolah lain. Maka merekapun bersemangat, belajar lebih lama, tidur secukupnya, demi mencapai target yang tak biasa. Merekapun mulai memikirkan masa depan mereka, dimana mereka akan mengunjungi tempat transit berikutnya. Lalu pada akhirnya mereka berganti menjadi saya, menandakan akhir dari keberadaan mereka di tempat yang sama, dan mereka hadir disini, hadir di gedung ini untuk menutup jenjang pendidikan MAN yang telah paripurna.

MAGNIVIC, pemuda-pemudi yang seimbang hati dan pikirannya, aminn.

Pada hari ini telah sempurna lah kegiatan belajar mengajar kita di MAN Insan Cendekia Serpong. Maka mari sama-sama kita ucapkan syukur yang tak terkira kepada Allah SWT, atas semua nikmat yang kita terima. Nikmat yang membahagiakan kita, melapangkan hati kita, dan membanggakan orang-orang di sekitar kita. Bersyukurlah kita ditempatkan di sekolah ini, sekolah yang konsen terhadap imtaq dan iptek.

Kita juga harus banyak berterima kasih kepada dua orang terhebat yang dianugrahkan oleh Allah kepada kita, ayah dan ibu kita. Bersyukurlah kita dilahirkan dari keluarga yang baik-baik, sadar agama dan sayang terhadap kita, anaknya. Seringkali kita merepotkan mereka dalam berbagai hal, dulu saat kecil kita repotkan dengan tangisan dan ompolan kita, beranjak tk kita repotkan mereka dengan ulah kita yang merisaukan, beranjak sd kita repotkan mereka dengan sering main kemana-mana hingga larut malam, tapi ketika SMA justru kita lebih senang berada diantara teman-teman kita daripada orang tua kita. Kasih mereka memang tak terbalas, mereka mengikhlaskan kita untuk menuntut ilmu di perantauan, tidak bersama mereka di rumah. Doa mereka pun tak pernah sepi ditiap kali sembahyang, harapan mereka tak lain anaknya bisa mendapatkan yang terbaik dan bermanfaat bagi keluarga, agama dan negaranya kelak. Maka kabarkanlah berita gembira ini kepada kedua orang tua kita, sampaikanlah bahwa anakmu telah mengukir prestasi yang membanggakan selama di Insan Cendekia.  Sehingga mereka bangga telah membesarkan kita, dan kitapun bangga mempunyai orang tua yang kasihnya tiada tara.
  
Berterima kasihlah juga pada  orang tua kedua kita di MAN Insan Cendekia ini, guru-guru dan karyawan. Berterima kasihlah atas pelajaran dan pengajaran yang telah kita terima selama ini. Kepada para guru yang telah menginfakkan waktunya untuk masa depan kita, bahkan terkadang mengalahkan waktu mereka untuk anak-anak mereka. Para guru yang setia mengajarkan kita, memberi ilmu dan hikmah di setiap pembelajaran, menunggu diantara kita yang remedial, menjadi tempat keluh kesah kita yang kesulitan dalam pembelajaran. Tapi terkadang kita terlalu naif terhadap semua pemberian itu, tidak memperhatikan, tidur di kelas, menyinggung mereka, atau lari dari kejaran remedial yang ada. Maka sampaikanlah maaf untuk guru-guru kita, maaf yang tulus karena kita banyak bersalah kepada mereka. Kita berikan apresiasi tertinggi pada mereka, pahlawan tanpa tanda jasa. Pun, begitu pula untuk para karyawan yang memudahkan kita untuk hidup di Insan Cendekia. menjaga keamaanan, memperindah taman, memberikan kenyamanan, dan kemudahan-kemudahan lain yang kita nikmati disini. Kita doakan semoga guru-guru dan karyawan yang telah membantu kita di Insan Cendekia ini, diberikan kekuatan dan kemampuan untuk tetap melahirkan generasi islam yang unggul, dimudahkan rezekinya, dipanjangkan umurnya dan diberkahi hidupnya.

MAGNIVIC, akhirnya tiba waktu dimana kita akan hidup berjauh-jauhan.

Bersyukurlah atas setiap detik kebersamaan kita disini. Kebersamaan yang resmi terlahir 17 agustus 2011, 17 ramadhan 1432 H, hari yang suci dan diberkahi. Kenanglah setiap kebahagiaan yang ada diantara kita. Ingatlah saat dulu kita berjuang untuk angkatan kita, teriakan teriakan kita disaat pertandingan olah raga, menyibak malam untuk kesuksesan acara. Ingat juga teman-teman yang telah mendukung kita, meneriaki kita dikala lesu, memotivasi kita dikala suram, menyadarkan kita dikala lalai, dan menggandeng kita di saat kita tak berdaya. Ingatkah kita, saat kita harus melepas dengan berat 2 orang teman kita yang Allah takdirkan untuk belajar diluar. Ingatkah canda dan tawa kita di kelas, di kamar, di pelataran masjid, dimanapun ada momen bersama antar kita. Sadarkah kita, ada tali tak terlihat yang mengikat hati kita. Sadarkah kita, memori-memori itu diputar kembali dalam ingatan kita, memberikan rasa nikmat akan kebersamaan dan persatuan.

Maka jangan bersedih, teman-teman.
Apalah arti jarak yang ada setelah hari ini. Bukankah kita masih bisa menghubungi satu sama lain melalui handphone atau alat komunikasi lainnya?
apalah arti ketiadaan setelah hari ini. Bukankah kita bisa bertemu kapan saja dan dimana saja?
Tapi, apakah semua sesimpel itu?
Lalu siapa yang akan membangunkan kita untuk shalat malam di sepertiga malam terakhir?
siapa yang akan menemani kita jamaah subuh di masjid?
siapa yang akan meramaikan jam makan kita?
siapa yang akan menamani kita di lapangan voli, di lapangan futsal?
siapa yang membawakan makanan kala kita sakit?
siapa yang akan menemani kita berbuka kala puasa sunnah?
siapa yang akan membuka obrolan seru di living?
lalu siapa?
Maka bersedihlah, teman-teman. Kita kehilangan orang-orang yang selama ini berada diantara kita, mewarnai hari-hari kita. Mereka yang tak bosan mengingatkan kita untuk senantiasa beribadah kepada Allah. Mereka yang rela menjadi teman diskusi kita, teman curhat kita, sehingga kita mendapat solusi dari permasalahan yang ada. Sungguh ini bukan sebuah pertemanan biasa, ini adalah ikatan erat yang membelenggu setiap jiwa. Sejatinya, seorang teman adalah mereka yang mengingatkan kita dikala salah dan menguatkan kita dikala benar. 

Selamat jalan, teman-teman. Inilah akhir cerita kebersamaan kita di MAN INSAN CENDEKIA, sekolah kita tercinta. Kenanglah semua mozaik yang indah selama kita bersama, cerita romantis kita, dan anekdot kehidupan kita. Buanglah semua keburukan yang ada, ambil hikmahnya dan perbaiki kedepannya. Ingat teman-teman, kita menanggung amanah dari jutaan rakyat Indonesia, untuk dapat memajukan Indonesia kedepannya. Maka dari itu jagalah diri dengan baik-baik. Teruskanlah kebiasaan-kebiasaan baik yang ditanamkan di Insan Cendekia, sehingga kita tidak mudah terbawa kebiasaan-kebiasaan kampus yang menggoda. Jadilah laki-laki yang sholeh dan wanita-wanita yang sholehah, sehingga Allah memantaskan untuk kita pasangan yang membawa ketenangan dan mempertebal iman. Istiqomahlah dalam menuntut ilmu, maka Allah akan meninggikan derajat kita dan membuat kita dapat menggenggam dunia. Kita punya tuntutan lebih untuk dapat menyebarkan rahmat Islam kepada seluruh alam, untuk mengcounter segala pengaruh buruk yang ada. Masukilah lini-lini strategis dalam kepengurusan organisasi di kampus, jadilah orang yang berpengaruh di kampus, sehingga sekitarmu dapat merasakan kebaikan-kebaikanmu.

MAGNIVIC, A Balance in Heart and Mind.

Tetap jalin silaturrahmi antar sesama kita. Jangan lupa dengan tahajud call yang sudah kita giatkan selama liburan. Adakan perkumpulan-perkumpulan kecil di setiap kota yang kita tinggali, agar kita bisa menjaga satu sama lain, mengingatkan pada impian kita bersama. Raga kita boleh terpisah jauh, tapi jiwa kita terpaut, bersatu dalam ketaatan dan ketundukan pada Allah SWT.

Wahai Pemberi cinta dan kasih sayang kepada ciptaanNya,
Hari ini kami tertawa riang,
maka tanamkanlah kesedihan mengingat dosa kami kepadaMu.
Hari ini beban-beban telah Kau angkat,
maka jangan hilangkan semangat kami untuk beribadah kepadaMu.
Hari ini Kau buat kami lebih dekat satu sama lain,
maka tanamkanlah rasa waspada untuk tidak melanggar batas yang Kau tentukan.
Hari ini kau turunkan nikmatMu yang besar kepada kami, memberikan rasa aman di hati kami, menepati janji kepada kami, bahwa barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil.
Maka jadikanlah generasi kami menjadi salah satu generasi yang berandil besar bagi kemajuan muslimin nantinya.
Kuatkanlah kami untuk menghadapi dunia luar yang liar,
yang menjebak siapupun yang iman dan islamnya mudah terbakar, menuntut kami untuk selalu istiqomah dan sabar.

Ya Allah,
sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa sesungguhnya hati-hati kami ini,
telah berkumpul karena cinta-Mu,
dan berjumpa dalam ketaatan pada-Mu,
dan bersatu dalam dakwah-Mu,
dan berpadu dalam membela syariat-Mu.
Maka ya Allah, kuatkanlah ikatannya,
dan kekalkanlah cintanya,
dan tunjukkanlah jalannya,
dan penuhilah ia dengan cahaya yang tiada redup,
dan lapangkanlah dada-dada dengan iman yang berlimpah kepada-Mu,
dan indahnya takwa kepada-Mu,
dan hidupkan ia dengan ma'rifat-Mu,
dan matikan ia dalam syahid di jalan-Mu.
Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.

1 comment :