5/31/2015

Pendidikan yang Mentransformasi Sosial‏

Tulisan-tulisan ini dimaksudkan untuk mengingatkan kembali maksud dan tujuan pendidikan apalagi pasca wisuda.

TIGA KATA SEMBOYAN DAN SEBUAH IRONI
...
Saya tahu bahwa mungkin diantara teman-teman sekalian, saya bukanlah siapa-siapa, saya tidak sepintar teman-teman, kemampuan memimpin saya juga tidak sebaik teman-teman, apalagi dalam hal seperti seni, olahraga, dan semacamnya, saya terbilang hampir tidak punya bakat sama sekali. Namun, saya jadi teringat suatu hal. Dulu saat wisuda sekolah saya, seorang teman saya, saat ini ia juga ada di ITB, mengguncang-guncang pundak saya, dan entah berapa kali dia mengatakan “prinsip, prinsip, prinsip”. Saya menangis sejadi-jadinya ketika itu. Teman saya itu sepertinya menganggap saya adalah orang yang baik, tapi sebenarnya tidak. Mungkin di luar, saya terlihat sebagai orang yang pendiam  dan tidak neko-neko. Namun, saat sedang sendirian, saya sering kali melakukan hal-hal yang mungkin bisa membuat teman-teman terlonjak ngeri atau bahkan jijik karenanya.Saya jadi sadar saat itu, bahwa setelahnya saya bukan anak-anak lagi. Saya akan tidak hanya bertanggung jawab atas perbuatan saya kepada diri saya sendiri, tapi juga orang lain.
...

Mewariskan Nilai, Merawat Harapan
...
Menurut Asep pula, mereka yang memilih untuk absen setiap kali digelar pesta demokrasi tersebut tidak otomatis telah berhenti berharap. Setidaknya, mereka berharap sikap golput mereka itu akan menjadi kritik ideologis yang bisa menghujam nurani, kalau memang masih ada, orang-orang yang mengklaim diri sebagai pemimpin tapi tak henti-hentinya mengelak dari tuduhan dan jeratan terali besi lantaran tersangkut kasus korupsi.
...

Antara Flaneur dan Ispapol: Untuk Apa Sebenarnya Kita Hidup (Bagian I)
Barangkali hanya sedikit di antara kita yang mengetahui bahwa beberapa waktu ke belakang adalah peringatan 100 tahun meninggalnya Albert Camus, seorang flaneur. Saat sedang makan siang hari ini, mata saya melirik secara sekilas pada sebuah tulisan yang dimuat dalam Tribun Forum yang ditulis oleh Irfan Teguh Pribadi. “Flaneur, Blog, dan Nasib Kata” adalah judul tulisan tersebut. Apa yang dibahas tulisan tersebut adalah menurunnya budaya untuk menelurkan gagasan secara utuh yang berbanding terbalik dengan tren sekadar berkomentar terkait dengan semakin ditinggalkannya blog dan linimasa media sosial yang memungkinkan penulisan suatu gagasan secara lengkap serta mendalam dan beralihnya masyarakat kepada linimasa jejaring sosial seperti tweeter dan line sebagai tempat adu argumen yang tidak lengkap.
Apa yang menarik saya dari tulisan tersebut adalah perumpamaan blog – sebuah alat penyampai gagasan yang utuh – sebagai rumah bagi kata, sementara linimasa jejaring sosial diumpamakan sebagai jalanan bagi kata, tempat bagi orang yang suka berjalan tak tentu arah, pelancong iseng, tukang ngeluyur ke mana-mana, atau dalam bahasa Prancis “flaneur”. Lalu apa hubungan tulisan tersebut dengan judul gagasan saya ini?
Flaneur, sebagaimana disebutkan, lekat dengan diri Albert Camus, barangkali hanya salah satu sisinya. Namun flaneur adalah bagian diri yang amat mudah dilihat. Seorang flaneur terkesan ngawur, tidak pernah taat aturan, tidak memiliki tujun dalam hidup. Namun Albert Camus adalah orang yang memiliki banyak sisi. Karya-karyanya adalah legenda di dunia sastra. Sebuah lakon karya Camus,Caligula, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Asrul Sani. Sastrawan Indonesia lain, Nh. Dini, juga menerjemahkan novel Camus berjudul La Paste pada tahun 1904.
Apa yang kemudian terlintas dalam benak saya adalah seorang flaneur bisa menciptakan karya yang fenomenal karena dalam “perjalanan tak tentu arahnya” sebenarnya ia telah memiliki sebuah arah, paling tidak pencarian arti hidup. Pencarian arti hidupnya itu mengarah kepada pemikiran-pemikiran yang dituangkan ke dalam karya-karyanya. Lalu sebuah pertanyaan di benak saya menyeruak. Untuk apakah sebenarnya kita hidup?
Pada peringatan ulang tahun organisasi Anjuman Himayat Islam di Lahore tahun 1909, beberapa saat setelah kembali ke India dari pengembaraannya di Eropa, Dr. Mohammad Iqbal mengatakan suatu hipotesis yang amat menarik dalam ceramahnya. “Kita hendaknya mengetahui bahwa setiap sistem agama besar bermula dari anggapan tertentu tentang hakikat manusia dan alam semesta,” kata Iqbal, yang di kemudian hari ia kembangkan lebih lanjut sehingga menghasilkan suatu konsepsi negara Pakistan. Dalam hal ini, Iqbal memulai dari dasar-dasar anggapan tentang manusia.
Pemikiran Iqbal tersebut menarik. Jika kita meninjau berbagai sistem agama maupun ideologi yang pernah dan masih ada di dunia ini, kita dapat mengatakan bahwa hampir semuanya berangkat dari suatu anggapan dasar tentang manusia dan alam semesta. Budhisme, misalkan, berangkat dari anggapan dasar bahwa unsur dominan dalam alam semesta adalah penderitaan. Untuk melepaskan diri dari penderitaan, Budhisme mengajarkan bahwa manusia, yang tidak berdaya, harus meleburkan diri atau memasrahkan diri kepada kekuatan alam.
Contoh lain adalah Zoroasterianisme. Fondasi dari sistem kepercayaan ini berawal dari anggapan bahwa alam semesta adalah medan pertempuran antara kekuatan baik dengan kekuatan buruk dan sebagai bagian dari alam semesta, diri manusia juga – mau tidak mau – menjadi medan pertempuran itu. Karena itu, dalam pandangan Zoroasterianisme, diri manusia selalu dihadapkan pada pilihan untuk condong ke arah kekuatan baik atau kekuatan buruk dan dapat bertindak sesuai kecondongannya.
Sementara itu, dalam pandangan Kristen, setiap manusia terikat dengan konsep dosa asal, sesuatu yang erat kaitannya dengan turunnya Adam ke dunia dalam teologi Kristen. Untuk menanggung dosa asal tersebut, dalam pandangan Kristen, manusia biasa tidak akan sanggup sehingga manusia akan menyandarkan dosa mereka kepada Sang Kristus yang akan menanggung dosa manusia.
Demikian juga jika kita meninjau ideologi-ideologi sekuler. Fasisme dan Nazisme sama-sama mengawali revolusi dan pergerakannya dari konsepsi tentang ras unggulnya sendiri. Konsepsi tentang ras unggul itu agaknya merupakan suatu pembicaraan yang amat klasik tentang eksistensi manusia. Bukti yang nyata akan hal ini terlihat pula pada Hinduisme yang merupakan salah satu kepercayaan tertua yang melandaskan sistem kastanya kepada konsep ras Arya sebagai elitis dan Dravida sebagai kaum biasa, rendahan, bahkan buangan.
Komunisme dan liberalisme sebagai contoh lain juga memiliki anggapan dasar masing-masing tentang manusia. Menurut liberalisme, manusia adalah pemilik modalnya sendiri dan tak dapat diganggu oleh siapapun dan lembaga apapun. Sebaliknya, menurut komunisme, manusia adalah bagian dari komune tempat dia berasal, masyarakatnya, karena itu kepemilikan komune lebih diutamakan daripada kepemilikan pribadi, bahkan hak milik pribadi dihilangkan.
Barangkali dari sekian pandangan tentang kemanusiaan yang penulis sampaikan berkaitan paham-paham di atas dalam banyak hal memerlukan koreksi karena keterbatasan penulis yang hanya dapat melihat dari sisi luar paham-paham tersebut. Namun dari sekilas pandang saja, pemikiran Iqbal tersebut dapat terlihat sebagai suatu kenyataan dalam kehidupan dan sejarah manusia. Berkaca dari pandangan tersebut, konsepsi mengenai manusia merupakan suatu hal yang amat fundamental dalam mengupayakan segenap perbaikan dalam hidup, baik sebagai individu, bangsa, maupun umat. Jika seseorang dapat menyadari arti keberadaannya sebagai manusia, maka ia akan memiliki kesadaran untuk bergerak dan mengupayakan segenap perbaikan untuk dirinya sendiri. Lebih tinggi lagi, jika setiap orang menyadari arti sebuah bangsa, arti sebuah kesatuan umat, yang merupakan kesatuan dari masing-masing diri manusia itu, maka masyarakat yang adil dan makmur akan dapat dicapai sebagai akibat sekaligus tujuan dari gerak masing-masing diri yang dilakukan secara bersama.
Sebuah bangsa, suatu umat, bagaimanapun juga adalah komposisi dari setiap individu. Karena itu, nasib suatu bangsa amat banyak dipengaruhi oleh kesadaran individu-individunya akan identitas mereka sendiri. Jika dalam buku Mengapa Negara Gagal yang ditulisnya, Daron Acemoglu mengemukakan bahwa ketidakmampuan pemerintahan untuk menciptakan suatu sistem yang efektif dalam birokrasi pemerintahan, hukum, dan ekonomi sebagai faktor utama gagalnya suatu pemerintahan, maka saya memandang bahwa unsur kesadaran manusia adalah faktor yang lebih berpengaruh. Sebuah sistem dan program-program pemerintahan tidak akan tepat sasaran jika hanya bersifat atas ke bawah atau bawah ke atas. Bisa jadi sistem dan program tersebut merupakan inisiasi dari kalangan atas dan merupakan suatu hal yang baik, tapi tanpa dukungan seluruh lapisan yang ada, tidak akan membawa perbaikan signifikan. Sebaliknya jika sistem dan program tersebut merupakan aspirasi lapisan bawah, meskipun merupakan suatu hal yang baik, tidak akan menuai hasil jika berbenturan dengan birokrasi dan perizinan dari pihak atas. Hal ini mengindikasikan bahwa kesadaran semua pihak merupakan faktor yang lebih kuat daripada sistem maupun program.
Sebuah buku berjudul Aku Beriman Maka Aku Bertanya yang ditulis oleh Profesor Jeffrey Lang memberikan gambaran tentang kegelisahan yang amat dalam ketika seorang anak manusia belum menemukan jati dirinya sendiri. “Waktu aku jalan, aku tidak tahu apa nasib waktu.” Begitu Chairil Anwar dalam salah satu puisinya.
Seorang manusia yang hidup hanya mengikuti ke mana keadaan membawanya akan sulit untuk menghasilkan suatu yang mengubah keadaan. Banyak orang seperti itu hanya menjadi wayang yang dikemudikan sejarah. Mereka tidak membuat perubahan apapun. Sebaliknya, orang-orang yang membuat perubahan selalu memiliki tujuan hidup mereka, sesuatu yang mereka yakini dengan kuat. Mereka mengupayakan apa yang mereka yakini itu sekuat tenaga, dengan keringat, air mata, dan darah. Sejarah mencatat nama mereka hingga sekarang. Begitu juga dengan apa yang mereka yakini sebagai tujuan mereka, tidak hanya mengubah hidup mereka sendiri, tapi juga mengubah hidup sekelompok orang, satu desa, satu kota, bahkan satu negara, bahkan dalam lingkup dunia.
Simon Sinek, seorang pembicara TED, mengajukan sebuah konsep tentang golden circle. Sebuah lingkaran berlapis tiga dengan lapisan terdalam berisi kata mengapa, lapisan kedua berisi bagaimana, dan lapisan ketiga apa.
M Miftahul Firdaus
Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB 2014

No comments :

Post a Comment